Fungsionalitas

Hari Sabtu menjelang sore di daerah Sukajadi Bandung menuju arah mall PVJ, saat naik motor bersama anak sambil menyusuri hiruk pikuk jalanan yg nyaris macet total, saya kebetulan mendapatkan pengalaman yg sangat menarik.

Sambil menjalankan motor dengan sangat perlahan bahkan bisa dibilang nyaris berhenti, persis disamping kiri saya ada pengendara motor yg tampaknya sepasang suami-istri. Entah apa merk motornya karena saya kurang memperhatikan.

Yg saya perhatikan justru tingkah laku si istri yg dibonceng dan super sibuk dengan HP-nya. Karena posisinya tepat disamping saya, tentunya saya bisa melihat jelas HP-nya. Dari bentuk dan warnanya yg sudah pudar saya bisa menilai bahwa HP keluaran Cina (maaf merk disensor) yg ber-OS Android itu pastinya sudah jadul. Namun yg menarik bukan merk, tipe, apalagi versi Android-nya, namun aplikasi Google Map yg terbuka di HP itu yg justru menarik perhatian saya.

Sambil ngoprek HP-nya, tiada henti si istri mengoceh kepada suaminya dalam bahasa Sunda, bahwa jalan yg dilalui mereka mestinya sudah benar. Karena penasaran, akhirnya saya tanya saja mereka karena memang persis disebelah saya.

“Mau kemana bu?”

Si istri ternyata langsung menjawab,

“Bade ka BIP kang, leres pan kadieu jalana?”
(Mau ke BIP kang, betul kan kesini jalannya?)

Saya pun langsung mengiyakan bahwa jalannya memang sudah benar, tinggal lurus kedepan, dan bla.. bla.. bla….

Mendengar jawaban saya, si istri pun kemudian berterima kasih dan langsung berkata kepada suaminya,

“Tuh pak, kan bener kadieu jalanna. Da ceuk Google oge kadieu, maenya Google ngawadul!
(Tuh pak, kan bener kesini jalannya. Kata Google juga kesini, masa Google bohong!)”

Dan berikutnya saya terpisah dari sepasang suami istri tersebut karena kebetulan saya mendapatkan celah untuk maju diantara mobil2 didepan saya.

Tidak berapa lama kemudian, masih ditengah padatnya kemacetan di Sukajadi, di sebelah kanan saya dengan jarak terhalang satu motor, sebuah mobil sedan keluaran terbaru (maaf merknya sensor lagi) membuka kacanya, dan seorang wanita muda yg cantik ..ehm :P bertanya kepada pengendara motor disebelahnya. Tangan si wanita itu tampak mengenggam sebuah HP yg punya ciri unik di bagian pinggirannya yaitu Samsung Edge, entah Edge tipe yg mana.

Saya lupa persis kalimat lengkap pertanyaan dari si wanita cantik itu, namun secara garis besar yg ditanyakannya adalah,

“ini jalan apaan?”

“kalo mau ke mall PVJ kemana jalannya?”

“udah tanya2 temen ke BBM tapi gak ada yg bener jawabannya”

…dan beberapa kalimat lainnya (lupa).

Nah, dari 2 pengalaman yg secara tidak sengaja saya dapatkan tersebut, tentunya kita bisa langsung menarik sebuah kesimpulan sederhana.

Perangkat genggam ataupun yg lazim disebut dengan gadget, walaupun harganya murah, bahkan dgn merk yg gak jelas menjadi sangat bernilai jika orang yang memegangnya tau cara menggunakan dan memahami fungsionalitasnya secara maksimal.

gps-car

Bandingkan dengan sebuah perangkat super canggih yg harganya jutaan namun fungsionalitasnya tidak digunakan secara maksimal, apakah hanya untuk pamer atau keren2an saja? entahlah, karena hanya pemiliknya yg tau seperti halnya wanita cantik yg saya ceritakan diatas :)

In my humble opinion, semurah atau sejelek apapun, jangan pernah malu dgn perangkat atau gadget yg kita miliki. Justru kenali fitur2nya sedalam mungkin dan maksimalkan fungsionalitasnya. Terlalu bergantung dengan teknologi memang tidak baik, tapi karena kita memang hidup dan beraktifitas di era teknologi yang semakin berkembang seperti saat ini, setidaknya harus ada kemauan untuk selalu meningkatkan rasa keingintauan dan kepedulian kita terhadap teknologi ini, entah dengan membaca, bertanya, berdiskusi, dlsb. Tentunya dengan tujuan agar teknologi ini bisa membantu aktifitas keseharian kita… Just my two cents :)

Leave a Reply